Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2011

Tipe Pria Yang Disukai Wanita



  1. Komunikatif
    Menurut hasil riset, wanita memerlukan lebih banyak waktu untuk bicara can diajak bicara dibandingkan dengan pria. Wanita menyukai pria y ang komunikatif dan selalu punya bahan pembicaraan yang menarik. Pria yang humoris tentu saja punya nilai plus di mata wanita.
  2. Perhatian
    Wanita menyukai pria yang penuh perhatian. Perhatian yang wajar dan tulus bisa membuat wanita merasa dihargai dan disayangi. Bila disampaikan pada saat yang tepat, perhatian yang kecil pun bisa meninggalkan kesan yan manis dan tak terlupakan.
  3. PengertianPria yang penuh pengertian tidak suka memberi ceramah panjang lebar, memasang wajah cemberut atau marah besar untuk mengubah kebiasaan buruk kekasihnya. Ia selalu siap memanfaatkan kesalahannya, berusaha mentolerir kelemahannya, berupaya memenuhi keinginannya, mencoba melihat dari sudut pandangnya, dsb.
  4. TegasWanita memerlukan seorang pendamping yang bisa bersikap tegas dan bisa mengambil keputusan. Misalnya, ketika bingung untuk memilih, wanita memerlukan Anda untuk membantunya mengambil keputusan. Laki-laki yang plin-plan, ragu-ragu dan susah memgambil keputusan biasanya kurang dihargai.
  5. Tegar
    Wanita mengagumi pria yang bersikap tegar dan berjiwa besar. Ketegaran tidak tampak ketika segala sesuatu berjalan lancar. Justru ia diuji ketika ada masalah, ketika hubungan terancam putusa, ketika ujian gagal, ketika terjadi PHK, dsb. Pria yang mudah menyerah, putus asa dan frustasi tidak menarik bagi seorang wanita. Bagaimana mungkin aku akan berlindung pada seorang bayi yang rapuh!
  6. Menghormati Wanita
    Wanita akan menghormati pria yang menghormatinya. Kapan wanita merasa dihormati? Ketika dia dibukakan pintu dan dipersilahkan masuk duluan, ketika beban yang diangkatnya diambil alih, ketika dia tidak dibiarkan menunggu terlalu lama, ketika dia dipuji di depan orang lain, ketika hasil karyanya dihargai, dsb.
  7. Melindungi Wanita
    Meskipun suka dilindungi, namun wanita tidak menyukai perlindungan yang over dan kaku. wanita tidak merasa dilindungi bila kemana-mana selalu dikawal, diawasi atau dimonitor meskipun dengan dalih demi keselamatanmu. Wanita juha tida suka terlalu diatur dan dilarang meskipun dengan alasandemi kebaikanmu. Wanita menghargai perlindungan yang lembut. Misalnya, berjalan atau menyeberang pada posisi aman, ditemani ketika dia merasa ketakutan, diantar ke dokter ketika dia sakit, didampingi ketika dia naik jet coster, dsb.
  8. Menghargai Wanita
    Wanita ingin dihargai dan diperlakukan oleh kekasihnya. Dia tidak suka mendampingi pria yang berkesan tidak terlalu menghargainya. Kapan dia merasa dihargai? Ketika dari luar kota Anda meneleponnya dan bilang Aku merindukanmu, ketika Anda meminta pendapatnya, ketika Anda tidak menyembunyikan seseuatu dengan alasan itu urusan laki-laku, dsb.
  9. Simpatik Pria yang simpatik tidak hanya bersikap baik kepada kekasihnya, tapi juga kepada keluarga kekasihnya, kepada teman-temannya dan kepada orang lain. Dengan demikian dia membuktikan bahwa kebaikannya bukan sandiwara, tapi benar-benar kebiasaan dan sifatnya.
  10. Romantis Pria yang romantis biasanya bersikap manis, memperlakukan kekasihnya dengan lembut, memanggilnya dengan sebutan yang romantis, memberi bunga pada hari-hari spesial, dsb. Meski tidak setampan Tom Cruise, Brad Pitt dan selembut Richard Gere, setiap pria perlu belajar untuk bersikap romantis. Mengapa? Karena pria yang romantis adalah pria idaman wanita.

Selasa, 16 Agustus 2011

Tips Memilih Isteri


1. Taat beribadah

Taat beribadah adalah hal yang penting bagi masa depan keluarga anda. Anak-anak anda nanti akan dibimbing lebih banyak oleh sang ibu. Jika ibunya tidak terpudji kelakuannya, maka hal ini bisa ditiru oleh anak. Carilah wanita soleh yang taat beribadah sehingga nantinya ia dapat mendidik anak-anak menjadi manusia berakhlak dan bisa mendorong anda untuk beribadah lebih baik lagi.

2. Cinta dan setia

Wanita yang mencintai anda tentunya akan setia pada anda dan akan selalu berada di samping anda dalam kondisi apa pun, baik dalam keadaan susah maupun senang. Cinta juga menjadi hal yang sangat penting, karena cinta adalah modal dasar dari hubungan suami istri yang baik. Sebaiknya cinta dan kesetiaan dimulai sejak masih pacaran.

3. Sehat jasmani dan rohani

Pilihlah wanita yang jasmani dan rohaninya sehat. Dari segi kesuburan pun juga penting jika anda ingin memiliki keturunan. Agar anda yakin, sebaiknya lakukanlah pemeriksaan kesehatan berdua saat pranikah. Perhatikan pula keluarganya apakah ada yang punya riwayat penyakit yang dapat menurun dan bisa berakibat fatal. Terkadang suatu penyakit dapat diturunkan ke anak maupun cucu.

4. Emosi stabil

Isteri yang murah senyum, lemah lembut, tidak suka marah dan tidak mudah stres menghadapi problema hidup adalah istri yang baik. Selama berpacaran sebaiknya anda melakukan pengamatan terhadap emosi, sikap dan perilaku pacar anda. Jika pacar anda mudah sekali marah meledak-ledak, mudah tersinggung dan mudah stres yang tidak bisa diubah, sebaiknya tinggalkan saja.

Hidup dimarahi isteri terus-menerus akan membuat anda menderita. Isteri yang baik adalah istri yang sabar dan bisa menghibur di kala duka maupun suka dalam berbagai kondisi, baik terhadap suami maupun anak.

5. Tidak bodoh.

Jangan mencari isteri yang memiliki intelegensia di bawah rata-rata, penampilan oke di luar saja dan hebat dalam urusan ranjang, tapi bodoh. Wanita yang bodoh tidak akan mampu membantu mencari solusi pada saat diperlukan, ia selalu menurut saja apa kata sang suami. Istri yang pintar bisa membantu mengatur rumah tangga dan mungkin bisa juga membantu keuangan keluarga dengan melakukan usaha sampingan atau bekerja.

6. Penampilan menarik

Sebaiknya anda mencari perempuan yang penampilan fisiknya secara alami anda suka, bukan penampilan hasil operasi plastik atau dandanan berlebihan. Menarik tidak harus selalu cantik, cakep, ayu, manis, seksi, imut-imut, dan sebagainya, tetapi yang penting anda tidak merasa bosan untuk melihat penampilannya. Sebisa mungkin cari wanita yang sekiranya untuk puluhan tahun mendatang tetap berpenampilan yang dapat membuat anda tersenyum bahagia ketika memandang wajahnya.

Jangan lupa anda maupun isteri menjaga penampilan setelah menikah agar masing-masing tidak merasa bosan atau menjadi benci melihat penampilan masing-masing yang kurang terawat setelah menikah sekian lama.

7. Tidak materialistis

Janganlah mencari wanita yang materialistis. Sebanyak apa pun uang yang anda peroleh dari kerja keras, tetap saja tak bakal mencukupi untuk menghidupi seorang isteri materialistis yang tidak tahu diuntung. Bisa jadi ketika anda sudah tidak punya uang lagi alias bangkrut, karena PHK atau rugi dalam usaha, anda bakal ditinggalkan oleh sang isteri yang materialistis.

8. Persetujuan orang tua dan keluarga.

Hubungan suami isteri harus didukung oleh orang-orang dekat di sekitar kita terutama dari orang tua, calon mertua, dan saudara. Pernikahan yang emosional tanpa dukungan orang dekat dapat berdampak buruk bagi hubungan di masa mendatang. Yang jelas jika belum mendapat persetujuan mereka, anda harus dapat menjelaskan dengan baik, bertukar pikiran, untuk meyakinkan mereka atas pilihan anda.

Pilih juga isteri yang bisa mencintai keluarga kita dan keluarganya, serta bersikap adil terhadap kedua belah pihak keluarga.


Senin, 15 Agustus 2011

Bagi Para Ayah yang Menutupi Resah Dengan Senyum



KEJADIAN kemarin siang yang saya alami saat menumpang taksi dari kantor di kawasan Lebak Bulus menuju workshop di Cakung sungguh sangat membekas dihati. Dering suara handphone sang supir seketika membangunkan saya dari lelap tidur.
“Ya, Ma? Ada apa? Papa lagi nyetir nih,” kata sang supir taksi yang memegang handphone di tangan kanan dan kemudi di tangan kiri.
“Apa? Susu si Nisa sudah habis? Kan’ baru kemarin dibeli?. Iya..ya..tiga hari lalu. Tapi kok cepat amat sih habisnya,Ma?. Biasanya kan’ sekaleng itu bisa buat seminggu?,” sahut si supir menjawab panggilan telepon dan berusaha tidak kehilangan konsentrasi mengemudi.
Saya pura-pura tidak memperhatikan dengan membuang pandangan ke arah samping. Ruas tol Jakarta Outer Ring Road cukup sepi saat itu. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang disana.
“Iya, Ma. Sabar. Nanti Papa beliin setelah kembali dari Pool malam ini,” ujar sang supir akhirnya. Helaan nafas panjang terdengar saat ia menutup telepon.
Menyadari saya memperhatikannya, sang supir mendadak berbalik ke belakang ditempat saya duduk. Raut penyesalan terlihat di wajahnya.
“Maaf ya pak, jadi terganggu tidurnya,”kata si supir santun,”Ini nih anak saya cepat banget minum susunya. Masa’ baru tiga hari lalu dibeli udah habis?. Moga-moga setoran kali ini bisa cukup beli sekaleng”.
Saya tersenyum dan mengangguk mafhum. Sang supir balas tersenyum getir.
Sebagai sesama ayah, saya paham keresahan yang ia alami.
Ingatan saya mendadak melayang ke sebuah peristiwa 17 tahun silam, di meja makan ruang keluarga kami di Perumteks. Dihadapan saya duduk ayah dengan mata menyala. Saat itu saya mengemukakan keinginan saya untuk membayar SPP sendiri dari hasil honorarium penulisan yang saya terima dari sejumlah media cetak lokal di Makassar. Sekitar 6 bulan saya menabung dan hari itu dengan bangga saya mengungkapkan keinginan itu didepan ayah.
“Dengar ya nak. Walaupun kamu sudah bisa bayar ongkos pete-pete (angkot) sendiri ke kampus dan sekarang mau bayar uang SPP dari hasil kerja kerasmu menulis di koran, kamu tetap menjadi tanggung jawab ayah untuk menyekolahkanmu sampai selesai. Meski ayahmu ini hanya pegawai negeri berpenghasilan kecil, tapi ayah tetap berusaha melakukan yang terbaik demi membiayai kamu dan adik-adikmu bersekolah. Camkan itu!,” kata ayah dengan suara bergetar.
Saya tertunduk dan menggigit bibir.
Tak pernah terbersitpun niat dihati saya untuk melukai hati ayah seperti ini. Keinginan saya tak lain adalah berusaha membantu orang tua dengan menggunakan uang tabungan saya dari hasil menulis untuk membayar SPP.
Bagi saya, itu adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan membayar uang kuliah dari hasil keringat sendiri. Saya tak menyangka, ayah justru merasa tersinggung karena soal ini.
Mendadak ayah bangun dari tempat duduk dan memeluk saya erat-erat. Keharuan terasa meruap diudara.
“Ayah bangga padamu, nak,” ucap ayah saya lirih ditelinga, “tapi tolong, biarkan ayah yang bayar SPP-mu sebagai bentuk tanggung jawab orangtua untuk anaknya. Kalau ongkos pete-pete ke kampus, silahkan kamu bayar pakai duit hasil kerja kerasmu menulis di koran. Ayah tak akan halang-halangi itu”.
Saya memandang wajah ayah yang teduh. Sudut mata lelaki panutan yang tak pernah letih mencatat kenangan itu basah oleh airmata. Beliau memeluk saya lagi lebih erat.
“Kelak, ketika kamu jadi ayah, nak. Kamu akan mengerti ini,” ujar ayah saya lembut. Dada saya seketika disesaki keharuan mendalam.
Lamunan saya buyar saat si supir taksi menceritakan betapa susahnya mendapatkan setoran yang “cukup layak” dibawa pulang untuk biaya makan anak dan isteri di zaman yang makin susah ini. Kerapkali ia terpaksa ngutang pada rekan sekerja.
“Tapi bila sampai dirumah, saya tetap berusaha tampil gembira dan tersenyum untuk anak dan istri saya pak, meski rasanya sedih dihati ini tak bisa memberikan nafkah yang memadai buat mereka,” kata sang supir dengan nada pilu.
Saya termenung.
Ada berapa banyak ayah–seperti supir taksi ini–yang menyimpan demikian rapi keresahannya dan tampil begitu tangguh sebagai sosok ayah yang dengan tegar menyatakan dihadapan istri dan anak-anaknya,”Jangan khawatir, biar ayah yang bereskan semuanya”.
Ada berapa banyak ayah yang tak mampu meredakan keresahannya hingga kemudian membiarkan tangannya berlumur darah, mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan rasa gundah dihati. Sementara dirumah, anak dan istri menunggu hingga larut malam kedatangan sang ayah dimana pada saat yang sama lelaki tangguh itu telah dalam keadaan kritis meregang nyawa, babak belur dihajar massa karena kejahatan yang dilakukannya dan hanya tersisa nafas terakhir di atas aspal yang basah oleh darahnya sendiri.
Ada berapa banyak ayah yang terpaksa menukar kehormatannya dengan melakukan korupsi, menipu rekan sekerja, berbuat curang dengan memanipulasi angka-angka demi meredam rasa resah didada hingga “orang-orang dirumah” tak perlu tahu dan bertanya halalkah duit yang dibawa pulang ?
Tak sedikit pula ayah yang memendam kegusaran dengan mengakhiri hidup diatas tali gantungan seakan-akan itu adalah solusi terakhir mengatasi persoalan.
Batin saya kian tergetar saat sang supir berkata lirih, “Kesedihan itu selalu saya simpan rapat-rapat dihati pak. Saya tak ingin keluarga saya merasakan keresahan yang saya alami dengan menciptakan kegusaran baru pada diri mereka. Tengah malam, saat saya sholat tahajjud, saya mengadukan persoalan ini pada Allah SWT. Berharap agar Sang Maha Pencipta melindungi agar jangan sampai saya berada dalam kekufuran akibat keresahan yang saya alami dan memperoleh rezeki yang halal serta layak untuk keluarga keesokan paginya”.
Saya menggigit bibir.
Terbayang kembali ekspresi wajah ayah saya 17 tahun silam. Beliau tak ingin menciptakan kegundahan baru pada diri saya, anak pertamanya, dengan mengambil alih tanggung jawab membayar SPP. Beliau ingin, dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki, tetap menggenggam tanggung jawab sekaligus keresahan itu sebagai ayah.
Saat mencium pipi kedua anak saya tadi pagi, mata saya berkaca-kaca. Sungguh, saya begitu ingin menjadi ayah yang mampu menyimpan rapi segenap resah dihati ini dengan penuh kesabaran lalu menampilkan senyum merekah. Untuk mereka dan untuk kehidupan yang begitu indah ini. (sumber)

Komentar

www.sulistiya-ningtyas.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes